BELASAN SISWA SMPIA 27 PERAGAKAN SIMULASI BENCANA

CILEGON.- Belasan siswa SMP Islam Al-Azhar (SMPIA) 27 Yayasan Pendidikan Krakatau Steel (YPKS) Kota Cilegon, Rabu (17/10/2018) memeragakan permainan simulasi bencana di hadapan ratusan siswa lainnya, pengurus yayasan, kepala sekolah, guru dan anggota jamiyyah. Belasan siswa dari kelas 7, 8 dan 9 tersebut dibagi dua kelompok. Kelompok pertama sebanyak 4 (empat) orang berperan sebagai bencana (gempa, tsunami, banjir dan longsor) sementara yang lainnya berperan sebagai warga.

"Teknis permainan simulasi gempa tersebut, salah seorang guru dengan menggunakan pengeras suara menyebut salah satu jenis bencana, misalnya gempa. Pemeran bencana yang disebut kemudian secara serta merta berlari menghampiri pemeran warga yang tengah berkumpul. Melihat bencana datang, para warga lari menghindar dari bencana tersebut. Siswa yang lambat larinya dan bahunya tersentuh oleh pemeran bencana langsung berhenti dan jongkok, pertanda dia adalah korban bencana," ujar Kepala Markas PMI Kota Cilegon, Nurwarta Wiguna didampingi Staf Penanggulangan Bencana, Alim, Humas & IT, Fahrullah dan Logistik, Maksum.

Dijelaskan, meski tanpa persiapan alias dadakan, para siswa berhasil memeragakan simulasi dengan baik. "Kegiatan permainan simulasi bencana tersebut merupakan bagian dari acara serah terima donasi dari keluarga besar SMPIA 27 YPKS Cilegon untuk korban Gempa & Tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng). "Warga sekolah telah melakukan penggalangan dana dan hasilnya terhimpun Rp. 10 juta yang disalurkan melalui PMI Kota Cilegon beserta beberapa dus pakaian layak dan popok bayi," katanya.

Usai acara penyerahan donasi, PMI Kota Cilegon juga menyerahkan langsung piagam penghargaan untuk sekolah dan Jamiyyah serta satu paket buku materi (7 buku) tingkat madya  kepada Pengurus YPKS. "Setiap perorangan, komunitas, lembaga, atau sekolah yang berdonasi ke PMI Cilegon langsung diberikan piagam penghargaan. Sedangkan pemberian buku 7 materi PMR Madya kepada pihak YPKS, karena rencananya di sekolah tersebut akan dibentuk unit PMR," tandas Nurwarta.

Kepala SMPIA 27, Abdul Rohim Hendy A didampingi Ketua Jamiyyah, Puspita Indiani menyatakan, donasi tersebut sebagai bentuk kepedulian warga sekolah untuk para korban gempa dan tsunami di Sulteng. "Mudah-mudahan, donasi dari warga SMP Islam Al-Azhar 27 ini bisa sedikitnya membantu meringankan penderitaan masyarakat Sulteng yang terkena bencana gempa dan tsunami, khususnya di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi," katanya.

Abdul Rohim juga menuturkan, selain menyerahkan donasi dalam bentuk uang tunai, juga beberapa dus pakaian layak dan popok bayi. "Semua bantuan dalam bentuk pakaian layak dan popok bayi dihimpun oleh Pengurus Jamiyyah," pungkas Abdul Rohim.

 

Bentuk Unit PMR

Kepala SMPIA 27 juga sehari sebelumnya meminta kepada PMI Kota Cilegon untuk menyosialisasikan tentang pembentukan unit PMR, karena manajemen sekolah sepakat ingin membentuknya. "Alhamdulillah dari PMI Kota Cilegon telah memberikan penjelasan kepada kami dalam hal pembentukan unit PMR. Insya Allah dalam waktu dekat ini keinginan tersebut bisa segera terujud," ujarnya.

Pengurus YPKS, Dedi Heryadi mendukung langkah sekolah untuk membentuk unit PMR. "PMR bukan sekadar kegiatan ekstrakulikuler, tapi didalamnya pendidikan karakter, membentuk kader relawan yang diharapkan kelak akan memiliki jiwa kepahlawanan, membantu sesama tanpa pamrih. Jadi, atas nama YPKS, kami sangat mendukung jika sekolah mau membentuk unit PMR," tandasnya.***

 

 

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…